Layanan Digital Buatan Indonesia Paling Diminati Milenial

Posted by By at 9 July, at 13 : 16 PM Print

  • Go-Jek menjadi aplikasi yang paling banyak digunakan milenial untuk transportasi, pesan antar makanan, dan pembayaran
  • Konsumen lebih mempromosikan aplikasi karya merah-putih yang merajai 4 sektor aplikasi e-commerce
  • Dengan menjadi pilihan milenial, aplikasi karya merah-putih bisa menjadikan Indonesia pemain utama ekonomi digital

 

JAKARTA, 9 Juli 2019 – Para milenial yang menjadi salah satu penggerak ekonomi digital terbesar di Indonesia paling meminati layanan digital atau e-commerce buatan negeri sendiri. Bahkan, Go-Jek, perusahaan teknologi asal Indonesia, menguasai tiga dari lima kategori mobile e-commerce yang paling diminati para milenial yaitu transportasi, pesan antar makanan dan pembayaran. Sementara Traveloka memimpin di kategori pemesanan hotel dan tiket. Sayangnya, untuk kategori aplikasi belanja (shopping application) masih dikuasai oleh pemain asing.

Hal ini terungkap dalam hasil penelitian berjudul “Perilaku dan Preferensi Konsumen Milenial Indonesia terhadap Aplikasi E-Commerce 2019” yang diselenggarakan oleh perusahaan riset asal Indonesia, Alvara Research Center. Hadir dalam diskusi media dan diseminasi hasil riset adalah CEO dan Founder Alvara Research Hassanudin Ali dan kemudian ditanggapi oleh Ketua Bidang Ekonomi Digital dari Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Bima Laga, serta Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Samuel Abrijani Pangerapan.

Penelitian tersebut bertujuan mengetahui kebiasaan dan perilaku konsumen milenial dalam menggunakan mobile e-commerce application baik buatan Indonesia maupun asing. Parameter yang diukur adalah brand awareness, perilaku dan kebiasaan konsumen, serta tingkat kepuasan pelanggan.

CEO dan Founder Alvara Research Hasanuddin Ali menjelaskan, perkembangan ekonomi digital di Indonesia didorong paling besar oleh konsumsi para milenial. Sesuai riset Bersama IDN Research Institute dan Alvara di awal tahun 2019, kelompok milenial Indonesia merupakan digital natives karena 98,2% telah memakai smartphone untuk mengakses internet. Mereka memiliki intensitas penggunaan smartphone yang tinggi hingga 6 jam per hari untuk menjalankan aktivitas chatting/messaging, jejaring sosial, hingga pembelian layanan jasa dan barang secara online.

Hasil penelitian Alvara menunjukkan Go-Jek memimpin rata-rata penggunaan pada tiga dari lima sektor aplikasi e-commerce untuk pasar segmen milenial, dengan rincian sebagai berikut:

 

  • Aplikasi Transportasi
    • Go-Jek lebih banyak digunakan oleh 70,4% responden dibanding Grab 45,7%. [Note: Responden dapat memilih lebih dari satu aplikasi]
    • Minat konsumen terhadap Go-Jek berkaitan dengan kualitas layanan yakni Mudah Digunakan (13,9%), Lebih Cepat (11,2%), dan Aplikasi Termurah (8,8%). Adapun Grab diasosiasikan dengan harga murah dan promo yang tercermin oleh persepsi Aplikasi Termurah (13,3%), Promosi Banyak (12,1%), dan Mudah Digunakan (11,7%).
    • Mayoritas responden yang menggunakan kedua aplikasi (dual user) menilai Go-Jek lebih bisa diandalkan dan lebih lengkap.
    • Dari seluruh responden, konsumen lebih banyak merekomendasikan Go-Jek daripada kompetitornya, dengan skor net promoter (NPS) 18,9.

 

  • Aplikasi Pesan-Antar Makanan
    • Menurut mayoritas pengguna aplikasi Pesan Antar Makanan di semua kelompok usia, Go-Food dianggap sebagai pelopor food delivery dan pemimpin pasar layanan antar makanan online, yang diukur berdasarkan brand awareness, penggunaan (usage) dan loyalitas konsumen (loyalty).
    • Go-Food mendominasi pasar pesan-antar makanan karena jauh lebih banyak digunakan oleh konsumen atau 71,7%, dibanding GrabFood 39,9%. [Note: Responden dapat memilih lebih dari satu aplikasi].
    • Seperti di transportasi, mayoritas milenial juga memilih Go-Food karena aspek kualitas layanan, sedangkan GrabFood lebih diasosiasikan dengan harga dan promo murah.
    • Konsumen lebih banyak merekomendasikan Go-Food dengan skor net promoter 14,9.

 

  • Aplikasi Belanja
    • Lazada aplikasi bermarkas di Singapura masih menjadi aplikasi belanja yang paling banyak digunakan oleh milenial di Indonesia (47,9%), dibanding Shopee (32,2%), dan dua aplikasi asal Indonesia Tokopedia (15,4%) dan Bukalapak (14.4%) [Note: Responden dapat memilih lebih dari satu aplikasi].
    • Milenial mengasosiasikan Lazada dengan COD/bayar ditempat, sedangkan Shopee dengan ongkos kirim gratis. Sementara, Tokopedia dan Bukalapak diasosiasikan dengan aplikasi belanja terkenal.
    • Shopee dan Tokopedia lebih direkomendasikan oleh milenial dibandingkan Lazada bila dilihat berdasar nilai net promoter.

 

  • Aplikasi Pemesanan Hotel & Tiket:
    • Traveloka menjadi aplikasi yang paling banyak digunakan untuk pemesanan hotel dan tiket (79%), dibanding Tiket.com dan Blibli.com.
    • Traveloka dipersepsikan banyak promo, sedangkan Tiket.com dan KAI Acess dipersepsikan sebagai aplikasi yang mudah digunakan. Dimana, momen promo di Traveloka banyak dimanfaatkan mayoritas millennial.
    • Tidak hanya itu, Traveloka juga lebih dipromosikan oleh milenial, ditunjukkan dengan nilai net promoter yang mengungguli pesaing.

 

  • Aplikasi Pembayaran Digital
    • Brand Awareness Go-Pay mencapai 100% di kalangan milenial. Angka ini mengungguli para pemain lain seperti OVO yang berasosiasi dengan Grab (96,2%), Dana (50,3%), PayTren (47%), LinkAja (35%).
    • Go-Pay juga paling banyak digunakan oleh 67,9% responden, dibanding dengan pemain aplikasi pembayaran digital sejenis. [Note: Responden dapat memilih lebih dari satu aplikasi].
    • Konsumen juga lebih mempromosikan Go-Pay dibanding aplikasi pembayaran digital sejenis. Ini berdasar dari nilai net promoter yang lebih tinggi yaitu 14,3.

 

Hasanuddin melanjutkan, “Momentum dimana para milenial yang notabene digital natives yang lebih memilih aplikasi e-commerce buatan Indonesia harus dijaga supaya Indonesia bisa menjadi pemain utama di era ekonomi digital tidak hanya menjadi pasar. Apalagi, berbagai outlook ekonomi menyebutkan bahwa potensi transaksi e-commerce di Indonesia sangat besar.”

Berdasar data, tahun 2020, transaksi e-commerce di Indonesia diperkirakan mencapai US$ 130 miliar atau setara Rp 1.700 triliun, naik tajam dibandingkan tahun 2016 dan 2013 yang sebesar US$ 20 miliar (Rp 261 triliun), US$ 8 miliar (Rp 104 triliun).

E-commerce Indonesia yang juga diminati kaum milenial merupakan unicorn asal Indonesia yang mempermudah aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat. Indonesia merupakan penyumbang empat unicorn dan berada di peringkat ke-7 di dunia, mengalahkan negara maju seperti Perancis, Swiss, dan Israel. Bahkan Go-Jek tembus menjadi decacorn dengan valuasi di atas US$ 10 miliar. Dengan mencetak unicorn, Indonesia mulai bergerak dari hanya sekadar pasar menjadi pemain utama di ekonomi digital sehingga kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Bukan hanya itu, peningkatan ekonomi digital Indonesia oleh para e-commerce lokal juga dapat mencetak pemain baru. Pemain baru harus siap dengan inovasi yang menciptakan skalabilitas guna mengejar pertumbuhan yang cepat. Ini penting untuk memastikan agar Indonesia tidak tergusur dari persaingan global, sehingga kembali hanya dijadikan pasar. Jadi, kita harus menjaga persaingan global dengan mendorong pertumbuhan dan peningkatan performa e-commerce asal Indonesia.

Penelitian dilakukan Alvara melalui survei tatap muka dengan metode cluster random sampling terhadap 1.204 responden di Jabodetabek, Bali, Padang, Yogyakarta, dan Manado yang dilakukan dari minggu pertama April sampai dengan minggu kedua Juni 2019, meliputi tahap pengambilan data lapangan (survei tatap muka), analisa data dan penulisan laporan. Nilai margin of error penelitian berada di kisaran 2,89%.

 

 

Report lengkap dapat didownload dibawah ini

Indonesia : PRESS CON BAHASA – E-COMMERCE REPORT

English : PRESS CON ENGLISH – E-COMMERCE REPORT

Indonesian Consumer Marketing : News & Insight

Leave a Reply