PRESS RELEASE: PILKADA DKI JAKARTA PERTARUNGAN SAMPAI TITIK AKHIR

Posted by By at 14 February, at 11 : 33 AM Print

The Final Countdown. Pertarungan pilkada DKI Jakarta kini mendekati titik akhir. Ribuan pasang mata dari seluruh Indonesia masih menanti siapa yang kelak meraih kursi DKI 1. Masa kampanye sudah hampir usai dan seluruh paslon juga telah dua kali bertarung dalam panggung debat untuk menyuarakan program-program unggulannya, yaitu pada 13 dan 27 Januari 2017. Isu-isu terkait paslon pun datang silih berganti. Berbagai arus tersebut pastinya berpengaruh pada pilihan politik warga DKI Jakarta. Atas pertimbangan tersebut, survey ini menjadi sangat penting untuk dicermati setelah dinamika politik yang cukup panas dan menjelang dilaksanakannya masa tenang pilkada minggu depan.

Riset ini adalah riset kedua yang dilaksanakan oleh Alvara Research Center, setelah riset pertama yang dilakukan pada tanggal 11 – 17 Januari 2017 lalu. Riset dilakukanmelalui survey tatap muka dari rumah ke rumah terhadap 811 responden warga DKI Jakarta yang memiliki hak suara (usia 17 tahun ke atas) di 105 kelurahan, penyebaran sampel responden di Kecamatan mengikuti proporsi sebaran populasi penduduk DKI Jakarta yang ada di Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Selatan. Survey dilakukan pada tanggal 6-8 Februari 2017 dengan metode Multi-stage Random Sampling, jumlah sampel tersebut memiliki margin error sebesar 3,4% dengan Tingkat Kepercayaan 95%.

Profil responden survei ini sesuai dengan kondisi demografi DKI Jakarta. Proporsi responden menurut gender adalah seimbang antara Pria dan Wanita (50:50), dengan 84,3% responden beragama Islam. Mayoritas responden berusia 17 – 45 tahun (73,6%) dan telah menikah (76,9%) serta berlatar pendidikan SLTA/MA (70,7%). Mayoritas responden adalah penduduk dengan pengeluaran Rp 3.000.001 – Rp 3.750.000 (26,1%) atau pada kategori SEC C2.

Dari sisi profil etnis diperoleh tiga etnis masyarakat Jakarta yang dominan, yaitu Jawa (34.5%), Betawi (26.6%), dan Sunda (15.9%).  Sedangkan, dari sisi relasi dengan ormas Islam, mayoritas responden mengaku bukan anggota ormas (60,4%). Namun, sejumlah responden mengaku sebagai anggota Nahdlatul Ulama (30,8%), lalu Muhammadiyah (6,9%).

 

POPULARITAS PASANGAN KANDIDAT

Secara popularitas, semua kandidat Cagub sudah dikenal dengan baik seluruh pemilih DKI Jakarta. Ketiga pasangan calon memiliki tingkat popularitas yang tinggi yaitu diatas 90%; Agus-Sylvi (100%), Basuki-Djarot (100%) dan Anies-Sandi (99%). Hal ini tentunya didukung oleh pemberitaan massif di media massa dan komunikasi yang masif dijalankan oleh masing-masing pasangan.

Jika diperdalam lagi, nama pasangan yang pertama kali disebut (Top of Mind) saat ditanyakan siapa pasangan yang dikenal, Basuki-Djarot disebut pertama kali oleh 55,4% diikuti oleh Anies-Sandi (27,5%), dan Agus-Sylvi (17,1%).

Dari sisi kesukaan, Basuki-Djarot paling disukai mayoritas responden (52,0%), disusul Anies-Sandi (46,6%), dan Agus-Sylvi (32,1%). Sedangkan, responden menilai pasangan yang paling layak menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur adalah Basuki-Djarot (44,1%), Anies-Sandi (35,8%), dan Agus-Sylvi (20,1%) 

ELEKTABILITAS PASANGAN KANDIDAT

Temuan hasil survey menunjukkan elektabilitas pasangan Basuki-Djarot mencapai 38,3%, Anies-Sandi sebesar 32,6% dan Agus-Sylvi pada 20,1% serta yang belum memutuskan sebesar 9,0%.  Secara Elektabilitas, pasangan Basuki-Djarot masih unggul dibanding dua kandidat lainya. Yang menarik, pasangan Anies-Sandi menyodok keperingkat kedua elaktabilitas mengalahkan pasangan Agus-Sylvi diperingkat ketiga

Jika dibedah lebih dalam secara geografis, pasangan Basuki-Djarot unggul di seluruh area Jakarta, kecuali Jakarta Selatan yang dominan dikuasai oleh Anies-Sandi. Di Jakarta Barat perolehan tertinggi oleh Basuki-Djarot sebesar 37,8%, Agus-Sylvi 29,2%, Anies-Sandi 23,2%, dan belum menentukan sebesar 9,7%.  Di Jakarta Timur suara tertinggi diperoleh Basuki-Djarot 42,2%, lalu Anies-Sandi 32%, Agus-Sylvi 16,9%, dan belum menentukan 8,9%.

Di Jakarta Utara, suara signifikan diperoleh Basuki-Djarot 56,5%, disusul Anies-Sandi 19,4%, Agus-Sylvi 14,5%, dan yang belum menentukan pilihan 9,7%. Di Jakarta Selatan, Anies-Sandi unggul signifikan dengan 50,5%, disusul Basuki-Djarot 21,9%%, Agus-Sylvi 19,3% dan yang belum menentukan 8,3%. Sedangkan, di wilayah Jakarta Pusat suara tertinggi diperoleh Basuki-Djarot 40%, lalu Anies-Sandi 32,9%, Agus-Sylvi 18,8%, dan yang belum menentukan pilihan 8,2%.

Sedangkan, dari sudut pandang usia, pemilih muda dan dewasa (17-45 tahun) dan Baby Boomers (56-65 tahun) dominan memilih Basuki-Djarot. Di kalangan pemilih usia 46-55 tahun dominan memilih Anies-Sandi.

Dari perspektif etnis/suku, pasangan Basuki-Djarot unggul di responden dari suku Batak (77,4%), Jawa (40,7%), dan Tionghoa (78,7%). Sedangkan, Anies-Sandi dominan menarik hati responden suku Minang (75%), Betawi (42,6%), dan Sunda (38%). Dari konteks agama, Basuki-Djarot mutlak unggul, dipilih oleh responden beragama Katolik (83,3%), Kristen Protestan (82,1%), dan Hindu/ Budha (86,7%).  Sementara di pemilih beragama Islam terjadi perebutan suara yang ketat, dimana Anies-Sandi unggul dengan (38,3%), disusul kemudian oleh Basuki-Djarot 30,0%, dan Agus-Sylvi 22,7%

TREN ELEKTABILITAS PASANGAN KANDIDAT

Dibandingkan dengan survey yang dilakukan Alvara Research Center sebelumnya, yaitu pada 11-17 Januari 2017, elektabilitas suara masing-masing pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur mengalami fluktuasi yang signifikan. Elektabilitas Agus-Sylvi turun signifikan, turun dari 31,8% pada periode Januari 2017 menjadi 20,1% pada periode Februari 2017, artinya dalam 1 bulan terakhir Agus-Sylvi kehilangan 11,6% suara pemlih. Disisi lain, pasangan Anies-Sandi mengalami lonjakan suara yang signifikan, dari 22,2% pada periode Januari 2017 menjadi 32,6% pada periode Februari 2017, atau naik 10,3%.  Pasangan Basuki-Djarot juga mengalami kenaikan dari 34,8% pada periode Januari 2017 menjadi 38,3% pada periode Februari 2017.  Sedangkan, responden yang masih belum memutuskan pilihan turun 2,2% (11,3% menjadi 9%). Melihat trend tersebut, hampir dipastikan pilkada DKI berlangsung dua putaran dimana Basuki-Djarot dan Anies-Sandi lebih berpeluang masuk putaran dua dibandingkan Agus-Sylvi.

Menariknya, jika dilihat dari sudut pandang pemilih yang mengaku menjadi anggota Nahdlatul Ulama (NU).  Elektabilitas Agus-Sylvi di kalangan warga Nahdlatul Ulama turun dari 36,2% pada periode Januari 2017 menjadi 31,8% pada periode Februari 2017.  Demikian juga suara Basuki-Djarot pun juga turun dari 31,0% pada periode Januari 2017 menjadi 26,1% pada periode Februari 2017.  Justru, suara Anies-Sandi yang meroket dari 22,4% pada periode Januari 2017 menjadi 40,3% pada Februari 2017.

Jika menganalisis tracking elektabilitas di kalangan Nahdliyin, tren suara Anies Sandi yang meroket dibandingkan tren pasangan calon lain dan tren undecided voters menggambarkan gejolak warga NU yang sebelumnya memilih Agus-Sylvi atau Basuki-Djarot justru mengalihkan pilihannya ke Anies-Sandi.

Kami mengamati ada 3 hal yang mempengaruhi dinamika perubahan pilihan suara warga DKI Jakarta.  Pertama, performa masing-masing kandidat di arena debat. Warga DKI sudah mampu memilah dan memilih ide dan gagasan masing-masing kandidat yang relistis dan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka, termasuk solusi untuk menjawab berbagai permasalahan yang terjadi di daerah ibukota, bukan sekedar menggunakan bahasa-bahasa yang normatif.

Kedua, efek domino dari isu perselisihan elit. Isu perselisihan Basuki Thahaja Purnama terhadap argumen KH Ma’ruf Amin berdampak pada degradasi suara Basuki-Djarot di kalangan warga NU. Di sisi lain, ketika muncul respon politik SBY yang cukup berlebihan terhadap isu tersebut justru membuat pasangan Agus-Sylvi ikut terimbas penurunan suara yang signifikan. Pasangan Anies-Sandi yang tidak “tersentuh” dan juga tidak ikut merespon dengan isu tersebut tetap fokus pada aktivitas kampanye justru menjadi “berkah” tersendiri, dengan melonjaknya suara Anies-Sandi dari kalangan Nahdliyin dan pemilih muslim lainnya.

Ketiga, keterlibatan “nahkoda partai” dalam kampanye kandidat. Kampanye pasangan Agus-Sylvi dihadiri Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).  Sedangkan, kampanye Basuki-Djarot dihadiri Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, dan Ketua Umum Partai Gerindra hadir sebagai juru kampanye Anies-Sandi.

Dalam konteks politik, keterlibatan para ketua partai dalam kampanye masing-masing kandidat membawa makna tersendiri. Elit partai tersebut ingin melihat seberapa besar pengaruh atau magnet politik yang mereka miliki terhadap konstituen, terutama bagi pasangan calon yang diusung. Selain itu turun gunungnya para elit politik ini memperkuat pandangan bahwa Pilkada DKI tidak hanya sebatas pertarungan antar pasangan calon yang memperebutkan kursi DKI 1 tetapi juga membuka pertaruhan patronase politik para elit yang berada di balik tirai masing-masing pasangan calon.

Dari aspek soliditas dukungan, pemilih Basuki-Djarot dan Anies Sandi sangat solid untuk tidak mungkin mengubah pilihannya. Justru sebanyak 46% pemilih Agus-Sylvi rentan tergoyah atau mengubah pilihannya.  Kondisi tersebut perlu menjadi benang merah bagi tim Agus-Sylvi.

Terakhir, jika pilkada berlangsung dua putaran, maka peluang Anies-Sandi justru lebih besar baik jika berhadapan dengan Agus-Sylvi atau Basuki-Djarot.  Sedangkan, Basuki-Djarot berpeluang menang jika berhadapan dengan Agus-Sylvi.

 

 

Alvara Strategi Indonesia merupakan Perusahaan Riset yang merupakan anggota ESOMAR (Market Research Worldwide Organization), anggota dari PERSEPI (Perhimpunan Survei Opini Publik Indoensia) dan PERPI (Perhimpunan Riset Pemasaran Indonesia).  Di bidang Riset Sosial, Alvara Strategi banyak membuat Riset Independen Non-Profit melalui Alvara Research Center yang telah mempublikasikan berbagai hasil survei seperti Aspirasi Politik Kelas Menengah Urban, Perilaku Generasi Millenials,  Evaluasi Kinerja Pemerintahan, hingga Potret Perkembangan Muslim di Indonesia.

 

Untuk Informasi lebih lanjut hubungi :

Hasanuddin Ali – Founder & CEO Alvara Research Center

Handphone/ Email: 08121070124/ hasanuddin@alvara-strategic.com

Management Office: Jl Tebet Raya 27A 2nd Fl  Jakarta Selatan 12810

 

 

Social Politic : News & Insight , , , , , , ,

Leave a Reply